Home Lokal DKPP Bantul Mengubah Sudut Sekolah Menjadi Ladang Produktif
LokalNews

DKPP Bantul Mengubah Sudut Sekolah Menjadi Ladang Produktif

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul mengoptimalkan lahan kosong di 32 sekolah untuk budidaya pertanian dan perikanan guna melahirkan generasi muda yang mencintai sektor agribisnis serta mendukung swasembada pangan daerah.

Share
dkpp Bantul optimalkan lahan sekolah agribisnis muda
Kepala Bidang Penyuluhan, Produksi dan Pengembangan Usaha Pertanian DKPP Kabupaten Bantul, Imawan.
Share

BANTUL — Di balik tembok-tembok kelas yang bising oleh suara riuh para siswa, sebuah gerakan sunyi namun berdampak besar tengah merayap di sela-sela lahan kosong sekolah di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah kabupaten setempat, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), kini tengah menggalakkan program pemanfaatan lahan tidur di lingkungan institusi pendidikan sebagai pusat percontohan pertanian dan perikanan skala mikro.

Langkah ini tidak sekadar bertujuan menghijaukan lingkungan sekolah, melainkan sebuah ikhtiar strategis dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat tapak sekaligus menjawab tantangan terbesar dunia agraris modern: keengganan generasi muda untuk turun ke sawah.

Kepala Bidang Penyuluhan, Produksi dan Pengembangan Usaha Pertanian DKPP Kabupaten Bantul, Imawan, memaparkan bahwa ruang-ruang terbuka di area sekolah menyimpan potensi luar biasa yang selama ini sering terabaikan. Berdasarkan kajian dinasnya, banyak sekolah yang memiliki sisa lahan marginal yang sebenarnya sangat subur jika dikelola dengan pendekatan teknologi pertanian yang tepat.

“Potensi ketahanan pangan berbasis sekolah ini sangat besar. Di beberapa titik, kami mendapati lahan yang belum dioptimalkan secara maksimal. Lahan-lahan ini sangat ideal untuk ditanami komoditas hortikultura yang cepat panen dan memiliki nilai gizi tinggi seperti tomat, cabai, terong, selada, hingga aneka sayuran daun lainnya,” jelas Imawan saat memberikan keterangan pers, Kamis (16/7/2026).

Menghubungkan Kurikulum dengan Kedaulatan Pangan

Program optimalisasi lahan ini bergulir selaras dengan instruksi pemerintah pusat yang tengah gencar mempromosikan kemandirian pangan nasional serta pemenuhan kebutuhan energi berbasis lingkungan. Menurut Imawan, sekolah adalah ekosistem yang paling tepat untuk menanamkan pemahaman komprehensif mengenai swasembada pangan secara praktis, bukan sekadar teori di lembar kerja siswa.

Untuk mewujudkan program yang berkelanjutan, DKPP Bantul tidak bekerja sendiri. Sinergitas lintas sektor dijalin erat bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul serta Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Bantul. Kolaborasi ini memastikan agar aktivitas bercocok tanam di sekolah terintegrasi dengan baik tanpa mengganggu fokus kegiatan belajar mengajar (KBM) utama. Sebaliknya, pertanian sekolah diplot menjadi ruang laboratorium alam yang memperkaya kurikulum praktis siswa.

Hingga pertengahan tahun ini, program pemanfaatan pekarangan sekolah telah menjangkau sedikitnya 32 lembaga pendidikan di wilayah Bantul. Sebaran sekolah ini mencakup berbagai jenjang, mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah luar biasa (SLB). Keterlibatan SLB menegaskan bahwa program ini bersifat inklusif, membuka ruang bagi seluruh elemen anak bangsa tanpa memandang keterbatasan fisik demi membangun kemandirian hidup melalui keterampilan bercocok tanam dan budidaya perikanan.

Memutus Rantai Keengganan Generasi Z

Statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian nasional maupun lokal kerap dihadapkan pada ancaman penuaan tenaga kerja (aging agriculturists). Mayoritas pelaku tani saat ini berada di usia senja, sementara minat generasi muda terhadap sektor agraris terus merosot akibat stigma bahwa bertani identik dengan lumpur, kemiskinan, dan kerja fisik yang melelahkan.

Kondisi inilah yang ingin diintervensi oleh DKPP Bantul sejak dini. Melalui pendekatan persuasif di sekolah, pemerintah daerah berupaya mengubah paradigma anak muda terhadap dunia tani.

Baca juga:  Revolusi Hijau di Lahan Basah: ITS Gandeng Teknologi Listrik untuk Garap Pertanian Gambut Indonesia

“Kami menyasar sekolah-sekolah ini sebagai pintu masuk utama. Target jangka panjang kami adalah melahirkan generasi masa depan yang mencintai dunia pertanian. Melalui interaksi harian dengan tanaman, kami berharap anak-anak mulai menumbuhkan rasa ketertarikan, sehingga kelak pertanian tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan bisa dikembangkan menjadi pilihan karier, bisnis, atau sumber nafkah utama yang menjanjikan,” urai Imawan.

Lebih lanjut, Imawan menegaskan bahwa pemahaman modern mengenai sektor pertanian tidak boleh lagi dipersempit hanya pada aktivitas mencangkul di sawah (on-farm). Pertanian modern adalah sebuah ekosistem agribisnis berskala besar yang mencakup berbagai sub-sistem yang saling terkait erat.

Di dalam ekosistem pertanian modern, terdapat aspek penyediaan sarana dan prasarana produksi (agro-input), manajemen teknologi budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan hasil tani, hingga strategi pemasaran digital yang dinamis.

“Anak-anak muda hari ini mungkin tidak tertarik untuk memegang cangkul secara langsung di fase awal. Tapi mereka sangat potensial ketika diarahkan ke sub-sistem hilir seperti strategi pemasaran, desain kemasan, hingga manajemen distribusi berbasis teknologi informasi. Dengan menaruh budidaya pertanian di sekolah, kami ingin membuka mata mereka bahwa rantai bisnis pertanian itu sangat luas, kreatif, dan menguntungkan,” imbuhnya.

Pendampingan Teknis dan Distribusi Stimulus

Program ini tidak dibiarkan berjalan secara otodidak oleh masing-masing sekolah. Menyadari keterbatasan pengetahuan teknis di lingkungan akademis, DKPP Bantul turun langsung memberikan asistensi menyeluruh. Langkah konkret yang diambil mencakup distribusi bantuan berupa bibit tanaman hortikultura unggul serta fasilitasi pelatihan berkala.

Tim penyuluh pertanian diterjunkan langsung ke sekolah-sekolah mitra untuk membimbing para siswa dan guru. Mereka diajarkan berbagai teknik praktis, mulai dari penyemaian benih, pemupukan organik, pembuatan instalasi penyiraman hemat air, pengenalan sistem hidroponik untuk lahan sempit, hingga teknik pemeliharaan komoditas perikanan air tawar berskala rumah tangga.

Model pengajaran yang interaktif ini terbukti mampu memicu antusiasme siswa. Alih-alih merasa terbebani, para pelajar di 32 sekolah tersebut justru menyambut gembira aktivitas luar ruangan ini sebagai jeda yang menyegarkan dari rutinitas belajar di dalam kelas.

Ke depan, DKPP Bantul memproyeksikan sekolah-sekolah yang telah berhasil menjalankan program ini untuk naik kelas menjadi kawasan percontohan (pilot project) bagi wilayah sekitarnya. Keberhasilan mereka diharapkan mampu menginspirasi sekolah lain, bahkan lingkungan rukun tetangga (RT) atau rukun warga (RW) di wilayah Bantul untuk mengadopsi gerakan serupa.

“Kami sangat berharap sekolah yang terlibat saat ini bisa menunjukkan hasil yang optimal dan menjadi mercusuar bagi lingkungan sekitarnya. Untuk ke depannya, manakala alokasi anggaran dan ketersediaan bibit kembali memungkinkan, kami berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan bantuan ini ke sekolah-sekolah lain yang saat ini belum mendapatkan stimulus,” pungkas Imawan optimis.

Dengan konsistensi dan kolaborasi lintas sektor yang terus terjaga, apa yang dimulai di sudut-sudut pekarangan sekolah di Bantul hari ini bisa jadi merupakan fondasi awal bagi lahirnya para teknopreneur pertanian masa depan yang akan menopang ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang.

Sumber berita: https://jogja.tribunnews.com/diy/1218717/dkpp-bantul-optimalkan-lahan-sekolah-untuk-budidaya-pertanian

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Menantang Kemarau di Tanah Flobamora: Langkah Taktis Pemprov NTT Menghalau Bayang-Bayang Kekeringan dan Gagal Panen

Menghadapi ancaman kekeringan ekstrem jelang puncak kemarau 2026, Pemprov NTT mempercepat langkah...

DPR RI Apresiasi Opini WTP Kementan, Sudaryono Tekankan Output Riil bagi Petani

DPR RI mengapresiasi kinerja laporan keuangan Kementerian Pertanian (Kementan) yang sukses meraih...

Ribuan Hektare Sawah di Subang Terancam Gagal Panen Akibat Kemarau

Kemarau panjang menyebabkan ribuan hektare sawah di Kabupaten Subang mengalami kekeringan. Petani...

Kemendes dan 10 Asosiasi Desa Gelar Seminar Nasional KDKMP, Dorong Kolaborasi Ekonomi Desa

Kemendes bersama 10 asosiasi desa menggelar Seminar Nasional KDKMP untuk memperkuat operasional...