JAMBI — Tren penguatan komoditas hijau di Provinsi Jambi membawa angin segar di level korporasi, meski belum sepenuhnya dinikmati secara merata oleh akar rumput. Berdasarkan keputusan terbaru dari Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Provinsi Jambi, harga pembelian tertinggi di tingkat pabrik kini sukses menyentuh angka Rp3.856,89 per kilogram.
Kendati angka di papan pengumuman pabrik tampak menjanjikan, potret di tingkat petani swadaya justru menyajikan cerita yang kontras. Para petani mandiri yang tidak terikat kontrak kemitraan masih harus menghadapi realitas potongan harga yang signifikan akibat rantai tengkulak atau toke.
Jurang Harga di Tingkat Petani Swadaya
Hukum pasar perantara masih menjadi tantangan utama bagi pekebun rakyat. Ketika harga resmi bagi petani plasma atau mitra perusahaan mendekati angka Rp4.000 per kilogram, para petani mandiri di lapangan diperkirakan hanya mampu mengantongi pendapatan di kisaran Rp2.700 hingga Rp3.400 per kilogram. Selisih margin yang lebar tersebut tersedot oleh biaya transportasi, penyusutan, serta keuntungan berlapis para perantara.
Dalam rapat mingguan berkala, Tim Perumus menetapkan struktur harga ini berdasarkan fluktuasi pasar global, di mana minyak sawit mentah (CPO) dihargai Rp15.315,24 per kilogram. Sementara itu, untuk komoditas inti sawit atau kernel bertengger di level Rp13.223,52 per kilogram, ditopang oleh capaian Indeks K yang berada di angka 93,07 persen.
Struktur Harga Berdasarkan Grafik Usia Tanam
Dinas Perkebunan setempat menegaskan bahwa nilai keekonomian TBS sangat bergantung pada usia produktif vegetasi. Skema harga resmi kelapa sawit di wilayah regional Jambi yang berlaku di tingkat pabrik dan kemitraan dirinci sebagai berikut:
- Fase Awal Produksi: Untuk kelapa sawit berumur 3 tahun ditetapkan senilai Rp3.198,73 per kilogram, disusul usia 4 tahun di angka Rp3.379,80 per kilogram, dan usia 5 tahun sebesar Rp3.458,33 per kilogram.
- Fase Matang: Tanaman usia 6 tahun dipatok Rp3.552,72 per kilogram, usia 7 tahun Rp3.634,61 per kilogram, usia 8 tahun Rp3.689,75 per kilogram, dan usia 9 tahun dihargai Rp3.774,61 per kilogram.
- Puncak Keekonomian: Nilai tertinggi dinikmati oleh tegakan kelapa sawit usia 10 hingga 20 tahun yang kokoh di angka Rp3.856,89 per kilogram.
- Fase Penurunan Eksploitasi: Untuk kelapa sawit usia 21 tahun turun ke angka Rp3.796,38 per kilogram, usia 22 tahun Rp3.707,82 per kilogram, usia 23 tahun Rp3.671,15 per kilogram, usia 24 tahun Rp3.491,56 per kilogram, dan berakhir di usia 25 tahun dengan harga Rp3.592,37 per kilogram.
Fluktuasi ini menjadi pengingat penting bagi tata niaga perkebunan daerah. Pemerintah daerah terus didorong untuk memperluas jangkauan kelembagaan koperasi agar para petani mandiri bisa segera beralih menjadi petani plasma, sehingga perlindungan harga resmi dapat dirasakan secara merata dan memangkas dominasi spekulan di tingkat bawah.
Sumber berita: https://jambi.tribunnews.com/bisnis/1200126/harga-sawit-di-jambi-hari-ini-rp3856-per-kg-di-pabrik-di-petani-kisaran-berapa
Leave a comment