Home Lokal Ribuan Hektare Sawah di Subang Terancam Gagal Panen Akibat Kemarau
LokalNews

Ribuan Hektare Sawah di Subang Terancam Gagal Panen Akibat Kemarau

Kemarau panjang menyebabkan ribuan hektare sawah di Kabupaten Subang mengalami kekeringan. Petani terancam gagal panen, sementara Pemkab mempercepat distribusi air dan bantuan pangan.

Share
sawah subang terancam gagal panen akibat kemarau
Kekeringan di Subang. (Foto: Dian Firmansyah)
Share

Musim kemarau yang melanda Kabupaten Subang mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor pertanian. Penurunan debit air di saluran irigasi membuat ribuan hektare lahan persawahan mengalami kekeringan, terutama di kawasan Pantai Utara (Pantura) Subang yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat.

Di sejumlah lokasi, hamparan sawah yang sebelumnya dipenuhi tanaman padi kini berubah menjadi lahan retak dengan permukaan tanah mengeras. Kondisi tersebut menunjukkan berkurangnya pasokan air yang selama ini menjadi penopang utama aktivitas budidaya padi.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya luas lahan yang gagal panen apabila distribusi air tidak segera kembali normal.

Lahan Pertanian di Ciasem Mulai Mengering

Pantauan di wilayah Ciasem memperlihatkan dampak kemarau yang semakin nyata. Permukaan sawah tampak pecah-pecah akibat tidak lagi mendapatkan aliran air dalam beberapa pekan terakhir.

Sebagian besar petani mengaku kesulitan mempertahankan pertumbuhan tanaman karena saluran irigasi yang biasanya mengairi lahan kini mengalami penurunan debit, bahkan ada yang sudah mengering.

Salah seorang petani, Sasmin, mengatakan sawah miliknya mulai kehilangan pasokan air sejak hampir satu bulan terakhir. Akibatnya, tanaman padi yang baru memasuki usia sekitar satu setengah bulan mulai mengering sebelum memasuki fase produktif.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut terus berlangsung, peluang untuk memanen hasil pertanian hampir tidak ada.

Selain kehilangan potensi hasil panen, petani juga harus menanggung kerugian akibat biaya produksi yang telah dikeluarkan sejak awal musim tanam.

“Biaya yang sudah dikeluarkan sekitar Rp7 juta per hektare. Kalau air tidak segera datang, tanaman bisa mati dan kami gagal panen,” ujarnya.

Ratusan Hektare Sawah di Satu Wilayah Sudah Terdampak

Sasmin menjelaskan para petani lokal sebenarnya telah memulai masa tanam beberapa bulan sebelumnya dengan harapan pasokan air irigasi tetap tersedia hingga masa panen.

Namun kondisi di lapangan berubah drastis ketika musim kemarau berlangsung lebih lama. Selain sawah yang mengering, sejumlah saluran irigasi mengalami penyusutan debit air sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian.

Di wilayah tempatnya bertani, ia memperkirakan sekitar 150 hektare sawah telah terdampak kekeringan. Angka tersebut belum termasuk lahan di desa maupun kecamatan lain yang mengalami kondisi serupa.

Pemandangan di lokasi pun berubah. Rumput liar mulai tumbuh di antara tanaman padi yang mengering, sementara beberapa penggembala memanfaatkan area tersebut sebagai tempat mencari pakan ternak karena tanaman padi sudah tidak lagi dapat dipanen.

Kekeringan Meluas ke Belasan Kecamatan

Data Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Subang menunjukkan bahwa dampak musim kemarau tidak hanya terjadi di Ciasem.

Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 16 dari 30 kecamatan di Kabupaten Subang telah mengalami kekeringan atau berada dalam kondisi rawan kekeringan.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Subang, Dewi Lestari, menyebut luas lahan yang telah mengalami kekeringan mencapai 1.704,23 hektare.

Selain itu, terdapat 3.026,29 hektare lahan pertanian lain yang masuk kategori terancam kekeringan apabila pasokan air tidak segera membaik.

Baca juga:  Pangkas Hambatan Birokrasi, Begini Alur Dapatkan Surat Rekomendasi BBM Subsidi Bagi Petani di Blora

Besarnya luasan tersebut menjadi perhatian karena Subang merupakan salah satu daerah penghasil beras penting di Jawa Barat.

Daftar Kecamatan yang Mengalami Kekeringan

Berdasarkan pendataan pemerintah daerah, wilayah yang telah terdampak maupun berpotensi terdampak kekeringan meliputi:

  • Pusakanagara
  • Cipeundeuy
  • Pabuaran
  • Legonkulon
  • Subang
  • Cipunagara
  • Cibogo
  • Sagalaherang
  • Pagaden Barat
  • Tanjungsiang
  • Cisalak
  • Compreng
  • Patokbeusi
  • Cikaum
  • Pagaden
  • Dawuan

Sebaran tersebut menunjukkan bahwa dampak musim kemarau tidak hanya dirasakan di kawasan pesisir utara, tetapi juga menjangkau wilayah lain di Kabupaten Subang.

Pemkab Percepat Koordinasi Distribusi Air

Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Subang menyatakan terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan sumber daya air.

Langkah ini dilakukan agar distribusi air ke lahan pertanian yang paling membutuhkan dapat diprioritaskan sehingga kerusakan tanaman tidak semakin meluas.

Pemerintah juga melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan kondisi kekeringan agar penanganan dapat disesuaikan dengan situasi di lapangan.

Menurut Dewi Lestari, koordinasi dilakukan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga kementerian terkait.

Strategi yang diterapkan saat ini meliputi sistem gilir air serta pompanisasi untuk membantu mengalirkan air menuju lahan pertanian yang masih memungkinkan diselamatkan.

Bantuan Pangan Disiapkan bagi Warga Terdampak

Selain fokus pada penyelamatan sektor pertanian, Pemerintah Kabupaten Subang juga menyiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak sosial ekonomi yang mungkin muncul.

Salah satunya melalui penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) berupa beras kepada masyarakat di wilayah yang terdampak bencana kekeringan.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat sekaligus mengurangi beban ekonomi petani yang mengalami penurunan pendapatan akibat ancaman gagal panen.

Pemerintah daerah juga berupaya menekan perluasan area gagal panen agar dampaknya tidak semakin besar terhadap perekonomian desa.

Stok Beras Masih Aman, Kerugian Petani Masih Didata

Di tengah ancaman kekeringan, pemerintah memastikan ketersediaan beras di Kabupaten Subang masih berada dalam kondisi aman.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan daerah, stok beras diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar 50 hari ke depan.

Sementara itu, besaran kerugian yang dialami petani masih dalam proses pendataan oleh petugas lapangan sebagai dasar pengajuan klaim asuransi pertanian.

Pendataan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemberian perlindungan kepada petani yang mengalami gagal panen akibat faktor cuaca ekstrem.

Ancaman terhadap Produksi Pangan

Meluasnya kekeringan menjadi pengingat bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada keberlanjutan pasokan air, terutama di wilayah yang mengandalkan sistem irigasi.

Apabila curah hujan belum kembali normal dan distribusi air tidak segera membaik, luas lahan yang terdampak berpotensi terus bertambah. Kondisi tersebut tidak hanya merugikan petani dari sisi ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas pangan di salah satu lumbung padi Jawa Barat.

Karena itu, koordinasi antara pemerintah, pengelola sumber daya air, dan para petani menjadi faktor penting untuk menekan risiko gagal panen sekaligus menjaga stabilitas produksi beras pada musim tanam tahun ini.

Sumber berita: https://www.detik.com/jabar/berita/d-8577049/sawah-di-subang-menganga-ribuan-hektare-terancam-gagal-panen

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Menantang Kemarau di Tanah Flobamora: Langkah Taktis Pemprov NTT Menghalau Bayang-Bayang Kekeringan dan Gagal Panen

Menghadapi ancaman kekeringan ekstrem jelang puncak kemarau 2026, Pemprov NTT mempercepat langkah...

DPR RI Apresiasi Opini WTP Kementan, Sudaryono Tekankan Output Riil bagi Petani

DPR RI mengapresiasi kinerja laporan keuangan Kementerian Pertanian (Kementan) yang sukses meraih...

DKPP Bantul Mengubah Sudut Sekolah Menjadi Ladang Produktif

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul mengoptimalkan lahan kosong di 32...

Kemendes dan 10 Asosiasi Desa Gelar Seminar Nasional KDKMP, Dorong Kolaborasi Ekonomi Desa

Kemendes bersama 10 asosiasi desa menggelar Seminar Nasional KDKMP untuk memperkuat operasional...