BLORA — Sektor peternakan rakyat di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, siap memasuki babak baru yang lebih terukur dan berbasis sains terapan. Langkah terobosan diambil oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora dengan menjalin kemitraan strategis bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kolaborasi lintas sektor ini difokuskan pada pemuliaan dan pengembangan budidaya ayam kampung skala masif, yang diproyeksikan menjadi daya ungkit baru bagi percepatan ekonomi masyarakat pedesaan serta pengetasan kemiskinan berbasis potensi lokal.
Langkah politis dan akademis ini diambil guna merespons pola pemeliharaan ayam kampung oleh warga Blora yang selama ini cenderung masih bersifat sambilan dan konvensional.
Melalui sentuhan teknologi riset dari Fakultas Peternakan UGM serta pendampingan kelembagaan yang intensif dari dinas terkait, budidaya ternak unggas lokal ini ditargetkan bertransformasi menjadi industri skala rumah tangga yang memiliki daya saing pasar tinggi dan jaminan kesinambungan produksi.
Mengubah Paradigma Peternakan Tradisional Menjadi Agribisnis Presisi
Selama bertahun-tahun, mayoritas warga desa di Kabupaten Blora memelihara ayam kampung dengan sistem umbaran (freerange) tanpa kontrol nutrisi dan sanitasi yang memadai. Pola ini mengakibatkan angka kematian anak ayam (DOC) terbilang tinggi, laju pertumbuhan bobot badan yang lambat, serta interval pengeraman telur yang panjang.
Intersi sains dari para pakar UGM dihadirkan justru untuk memutus mata rantai kendala teknis tersebut.
Para peneliti dan akademisi UGM membawa hasil riset pemuliaan genetika ayam lokal yang telah teruji—seperti varietas ayam kampung unggul dengan laju pertumbuhan lebih cepat, daya tahan tubuh yang kokoh terhadap serangan penyakit endemik, serta efisiensi pakan yang tinggi. Pengetahuan teknis inilah yang ditransfer secara langsung kepada kelompok-kelompok tani dan peternak di Blora melalui percontohan kandang terintegrasi.
Peta Jalan Kolaborasi: Dari Pemuliaan Bibit Hingga Manajemen Pakan Murah
Sinergi antara Pemkab Blora dan UGM dirancang mencakup seluruh ekosistem agribisnis peternakan dari hulu ke hilir. Pada sektor hulu, fokus utama diarahkan pada pembentukan pusat penetasan dan pembibitan (breeding center) lokal di Blora. Langkah ini penting untuk menjamin ketersediaan anak ayam unggul berkualitas secara rutin tanpa harus bergantung pada pasokan luar daerah yang memakan biaya logistik tinggi.
Di samping itu, persoalan pakan yang sering menjadi ganjalan utama peternak turut disiasati melalui pemanfaatan bahan baku lokal.
Tim UGM memberikan formulasi pakan racikan murah memanfaatkan limbah hasil pertanian Blora—seperti dedak padi, bungkil kedelai, jagung lokal, hingga pemanfaatan maggot (BSF) dan tanaman konsentrat hijau. Penghematan biaya pakan hingga 30–40 persen ini menjadi kunci utama untuk meningkatkan margin keuntungan bersih yang dikantongi oleh para peternak desa.
Mendorong Penguatan Ekonomi Rumah Tangga dan Penyerapan Tenaga Kerja
Bupati dan jajaran Pemkab Blora menggarisbawahi bahwa program pengembangan ayam kampung ini memiliki efek ganda (multiplier effect) yang langsung menyasar ketahanan ekonomi keluarga. Budidaya ayam kampung unggulan relatif tidak memerlukan modal awal yang sangat besar dan dapat dijalankan di pekarangan sekitar rumah.
Karakteristik usaha ini membuka peluang keterlibatan aktif bagi kelompok perempuan, ibu rumah tangga, serta pemuda desa yang belum memiliki pekerjaan tetap.
Dengan memelihara populasi ayam kampung skala medium secara tertata, setiap rumah tangga penerima manfaat diproyeksikan memiliki arus kas (cash flow) harian atau mingguan dari penjualan telur dan daging ayam segar. Akumulasi peningkatan pendapatan di tingkat tapak ini diyakini efektif dalam menekan angka kemiskinan dan meningkatkan daya beli masyarakat pedesaan di Blora.
Menjamin Kepastian Pasar dan Pembentukan Korporasi Peternak
Tantangan terbesar dari program pemberdayaan peternakan pedesaan sering kali bersumber dari ketidakpastian harga saat panen raya tiba. Menyadari hal tersebut, strategi kemitraan Pemkab Blora dan UGM turut mengarsiteki rantai pemasaran yang berkeadilan.
Pemerintah daerah memfasilitasi pembentukan koperasi atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama yang bertindak sebagai penampung (offtaker) hasil panen warga.
Melalui kelembagaan ini, produk ayam kampung Blora dihimpun, distandardisasi ukurannya, dan dikemas secara higienis sebelum disalurkan ke jaringan pasar yang lebih luas—seperti industri kuliner khas, pasar modern, hingga pemenuhan pasokan bagi program-program perbaikan gizi masyarakat di tingkat provinsi. Terciptanya jaminan harga patokan di tingkat peternak memberikan ketenangan dan kepastian usaha bagi warga untuk terus memproduksi.
Cetak Biru Kemandirian Pangan dan Ketangguhan Daerah
Langkah terobosan yang ditempuh Pemkab Blora bersama Universitas Gadjah Mada ini memperlihatkan betapa krusialnya sinergi triple helix—pemerintah, akademisi, dan masyarakat—dalam menggerakkan potensi lokal. Pengembangan ayam kampung berbasis sains di Blora bukan sekadar proyek pembagian bantuan ternak biasa, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam membangun sistem ketahanan pangan daerah yang mandiri.
Jika keberlanjutan pendampingan dan konsistensi penerapan teknologi peternakan di lapangan dapat terjaga dengan baik, Kabupaten Blora berpeluang besar untuk tampil sebagai salah satu sentra utama pemasok ayam kampung unggulan di Jawa Tengah.
Dari petak-petak kandang di pedesaan Blora, kolaborasi ini membuktikan bahwa inovasi ilmu pengetahuan dari panggung perguruan tinggi dapat diturunkan menjadi sumber rezeki yang nyata dan menyejahterakan rakyat di akar rumput.
Sumber berita: https://jateng.tribunnews.com/blora-sesarengan/1261095/pemkab-blora-gandeng-ugm-kembangkan-ayam-kampung-ditarget-jadi-pengungkit-ekonomi-masyarakat
Tinggalkan komentar