SEMARANG — Wacana pengembangan ekosistem peternakan dan penangkaran sapi perah skala besar di Kabupaten Brebes terus bergulir menjadi sorotan publik maupun kalangan legislatif di Jawa Tengah. Di tengah ekspektasi tinggi terhadap masuknya modal dan teknologi modern di sektor agribisnis tersebut, dorongan kritis menyuarakan pentingnya porsi keterlibatan warga lokal. Ketua Komisi A DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menegaskan bahwa mega proyek peternakan sapi perah di wilayah perbatasan utara-barat Jawa Tengah tersebut tidak boleh hanya menjadikan masyarakat lokal sebagai penonton di tanah kelahirannya sendiri.
Penegasan ini disampaikan guna memastikan bahwa ekspansi investasi di sektor peternakan memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang konkret terhadap taraf hidup masyarakat di tingkat tapak.
Dalam pandangan politik anggarannya, masuknya proyek strategis ke daerah harus berorientasi pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan statistik yang terisolasi dari realitas sosial warga setempat.
Potensi Brebes dan Urgensi Inklusi Sosial Peternak Lokal
Kabupaten Brebes selama ini dikenal luas sebagai sentra utama komoditas bawang merah dan budidaya telur asin. Namun, karakteristik wilayah selatan Brebes yang bertopografi dataran tinggi dan berudara sejuk—seperti kawasan Sirampog dan Paguyangan—memiliki kualifikasi ekologis yang sangat ideal bagi pengembangan ternak sapi perah produktif. Kehadiran fasilitas industri sapi perah diproyeksikan mampu mendiversifikasi struktur perekonomian daerah yang selama ini sangat bergantung pada sektor holtikultura.
Meski demikian, Mohammad Saleh menggarisbawahi bahwa kunci sukses jangka panjang dari proyek peternakan ini terletak pada sejauh mana pola kemitraan (inti-plasma) diterapkan secara adil.
Jika proyek hanya dikuasai oleh pengembang besar tanpa mengintegrasikan peternak tradisional lokal, kekhawatiran timbulnya ketimpangan ekonomi dan gesekan sosial akan sulit terelakkan. Pihak investor dan pemerintah daerah didesak untuk mengarsiteki skema kerja sama yang menempatkan warga desa sebagai mitra produktif—baik dalam penyediaan pakan hijau, pengelolaan kandang kelompok, maupun rantai pasok distribusi susu segar.
Transfer Teknologi dan Pembinaan SDM Berkelanjutan
Salah satu tantangan terbesar yang sering dihadapi peternak lokal saat dihadapkan pada modernisasi industri adalah ketimpangan penguasaan teknologi. Peternak tradisional di kawasan pedesaan umumnya masih mengandalkan tata cara pemeliharaan konvensional dengan tingkat efisiensi pakan dan produksi susu yang relatif rendah.
Oleh karena itu, Mohammad Saleh mendesak agar dokumen perencanaan proyek sapi perah di Brebes mewajibkan adanya program pembinaan dan edukasi berkelanjutan bagi SDM lokal.
Perusahaan penyedia atau pengelola proyek harus mengalokasikan sumber daya khusus untuk transfer pengetahuan (knowledge transfer)—meliputi teknik pemuliaan bibit unggul, manajemen sanitasi kandang berbasis higiene modern, formulasi pakan konsentrat bernutrisi tinggi, hingga pengoperasian mesin pemerahan otomatis. Tanpa adanya pembenahan kapasitas SDM lokal, klaim keterlibatan masyarakat akan menguap sekadar menjadi jargon di atas kertas.
Menjaga Ketahanan Pangan dan Menekan Ketergantungan Impor Susu
Secara makro, dorongan optimalisasi proyek sapi perah di Brebes ini sejalan dengan agenda strategis nasional dalam memperkuat ketahanan pangan hewani. Sampai saat ini, Indonesia masih menanggung beban ketergantungan impor bahan baku susu cair dan susu bubuk yang cukup tinggi guna memenuhi kebutuhan industri pengolahan susu (IPS) nasional dan program perbaikan gizi anak.
Dengan mengoptimalkan potensi lahan di Brebes yang terintegrasi dengan tenaga kerja lokal, Jawa Tengah berpeluang mengambil peran sentral sebagai penopang pasokan susu nasional.
Mohammad Saleh menilai bahwa pemenuhan konsumsi susu dalam negeri tidak harus bergantung penuh pada pasokan luar negeri selama daerah-daerah potensi seperti Brebes diberikan ruang dan dukungan anggaran untuk berkembang. Sinergi antara kebijakan perlindungan peternak daerah dan investasi swasta dipandang sebagai formula paling masuk akal untuk mengejar target kemandirian pangan hewani tersebut.
Mitigasi Dampak Lingkungan dan Ketersediaan Pakan Hijau
Di samping isu keterlibatan tenaga kerja, aspek perlindungan ekosistem pesisir dan pegunungan di Brebes tidak boleh terabaikan. Pengoperasian kandang sapi perah skala besar menghasilkan limbah organik dalam kuantitas signifikan yang jika tidak dikelola dengan benar berpotensi mencemari sumber air warga dan memicu bau tak sedap.
Mohammad Saleh mengingatkan perlunya perencanaan AMDAL yang ketat dan transparan. Pengolahan limbah kotoran sapi harus diintegrasikan dengan teknologi energi terbarukan—seperti instalasi biogas dan pabrik pupuk organik kompos.
Menariknya, pengelolaan limbah ini justru menyimpan peluang usaha baru bagi warga lokal. Petani setempat dapat mengolah limbah ternak menjadi pupuk hayati murah untuk lahan pertanian mereka, atau sebaliknya, memasok limbah rumput gajah dan jerami sebagai bahan pakan ternak dengan sistem jual-beli yang saling menguntungkan.
Komitmen Pengawasan Legislatif demi Kesejahteraan Rakyat
Sebagai wakil rakyat di tingkat provinsi, Komisi A DPRD Jawa Tengah memastikan akan terus mengawal setiap tahapan implementasi proyek sapi perah di Brebes ini. Pengawasan akan difokuskan pada pemenuhan komitmen penyerapan tenaga kerja lokal, transparansi perizinan pemanfaatan lahan, serta realisasi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyasar peningkatan fasilitas umum desa sekitar.
Langkah Mohamad Saleh yang secara konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat bawah ini menegaskan arah pembangunan regional Jawa Tengah yang berbasis pada keadilan sosial.
Investasi yang masuk ke kawasan daerah tidak boleh diekstrak demi keuntungan sepihak pengembang, melainkan harus mampu menjadi tuas penggerak yang mengangkat derajat ekonomi rakyat kecil. Proyek sapi perah di Brebes kini berdiri di persimpangan jalan: menjadi contoh sukses integrasi investasi hijau berbasis masyarakat, atau menambah daftar panjang efisiensi industri yang meninggalkan warga lokal dalam ketertinggalan.
Sumber berita: https://jateng.tribunnews.com/jawa-tengah/1260716/mohammad-saleh-proyek-sapi-perah-brebes-harus-libatkan-masyarakat-lokal
Tinggalkan komentar