TEMBILAHAN — Ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik atau kimia buatan industri yang harganya kerap berfluktuasi masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga profitabilitas sektor perkebunan rakyat. Merespons persoalan mendasar di tingkat tapak tersebut, sebanyak 111 peserta asal Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, resmi diterjunkan dalam program pelatihan pembuatan pupuk organik. Langkah strategis ini terselenggara berkat kolaborasi dan dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)—atau yang dikenal sebagai BPDPKS—bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian serta Balai Pelatihan Perkebunan/BPI.
Inisiatif pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pertanian ini dirancang untuk membekali para petani sawit dan komoditas perkebunan lokal dengan keahlian teknis secara mandiri.
Melalui transfer pengetahuan ini, para peserta diharapkan tidak lagi hanya bertindak sebagai konsumen pasif input pertanian, melainkan mampu mengolah potensi limbah hayati yang melimpah di sekitar perkebunan mereka menjadi nutrisi tanaman berkualitas tinggi yang ramah lingkungan.
Kolaborasi Strategis Demi Penguatan SDM Perkebunan Rakyat
Program pelatihan yang melibatkan 111 peserta pilihan dari berbagai kecamatan di Indragiri Hilir ini merupakan bagian integral dari alokasi dana pengembangan SDM sektor perkebunan yang dikelola secara transparan oleh BPDP. Sinergi lintas lembaga antara BPDP, Ditjenbun, dan BPI memperlihatkan komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi hulu industri perkebunan nasional dari ranah edukasi.
Perwakilan instansi penyelenggara menggarisbawahi bahwa peningkatan kapasitas SDM merupakan prasyarat mutlak sebelum melangkah pada modernisasi teknis perkebunan.
Kabupaten Indragiri Hilir, yang secara geografis dikenal dengan julukan “Negeri Seribu Parit” dan memiliki hamparan perkebunan rakyat yang amat luas, dipilih sebagai lokus utama karena potensi dampak ekonominya yang sangat besar bagi kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Memanfaatkan Limbah Perkebunan Menjadi Formula Pupuk Unggulan
Materi pelatihan tidak hanya berkutat pada teori di dalam ruangan kelas, melainkan didominasi oleh porsi praktik langsung (hands-on training) di lapangan. Para peserta diajarkan metode pengolahan limbah organik perkebunan—seperti pelepah kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), limbah sabut kelapa, hingga kotoran ternak—menggunakan agen dekomposer mikroorganisme lokal (MOL).
Secara teknis ilmiah, para instruktur ahli dari BPI memberikan bimbingan mengenai:
- Teknik Pencacahan dan Formulasi Rasio C/N: Menjaga keseimbangan kadar Karbon ($C$) dan Nitrogen ($N$) dari bahan baku agar proses dekomposisi berjalan cepat dan menghasilkan kompos yang matang sempurna.
- Pengontrolan Kelembapan dan Suhu Fermentasi: Memastikan temperatur tumpukan bahan organik berada pada kisaran optimal guna membunuh mikroba patogen dan biji gulma pengganggu.
- Pengayaan Unsur Hara: Menambahkan bahan mineral alami lokal untuk mendongkrak kandungan Nitrogen ($N$), Fosfor ($P$), dan Kalium ($K$) pada pupuk organik cair (POC) maupun pupuk organik padat yang dihasilkan.
Melalui penguasaan teknik pembuatan yang benar, pupuk organik yang diproduksi oleh para petani ini terbukti memiliki efikasi yang baik dalam memulihkan struktur fisik dan biologi tanah perkebunan yang mulai jenuh akibat pemakaian pupuk kimia jangka panjang.
Solusi Taktis Tekan Biaya Operasional Kebun
Dampak paling konkret yang dikejar dari pelaksanaan pelatihan ini adalah penurunan biaya produksi (cost of production) di tingkat petani swadaya. Biaya pembelian pupuk kimia komersial selama ini menyedot alokasi modal hingga 40 sampai 60 persen dari total biaya operasional perawatan kebun harian.
Dengan kemampuan memproduksi pupuk organik secara mandiri memanfaatkan bahan baku gratis di sekitar kebun, para petani di Indragiri Hilir diproyeksikan mampu menghemat anggaran pembelian pupuk secara signifikan.
Rasio efisiensi biaya ini secara otomatis meningkatkan margin keuntungan bersih yang dibawa pulang oleh keluarga petani saat musim panen tiba. Selain itu, penggunaan pupuk organik secara konsisten terbukti membuat tanaman sawit dan kelapa lokal lebih tahan terhadap efek stres kekeringan serta serangan hama penyakit.
Menuju Pertanian Berkelanjutan dan Sertifikasi Hijau
Di luar aspek finansial jangka pendek, langkah BPDP, Ditjenbun, dan BPI dalam mendorong penggunaan pupuk organik ini sejalan dengan tuntutan global terkait tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (sustainable palm oil). Industri sawit Indonesia saat ini dituntut untuk memenuhi standar keanekaragaman hayati dan jejak karbon yang ketat, sebagaimana dipersyaratkan dalam skema sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).
Penerapan budidaya tanaman berprinsip organik menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian sertifikasi tersebut.
Para petani di Inhil yang telah mengikuti pelatihan ini disiapkan untuk menjadi pelopor (pioneer) dalam pembentukan kelompok tani ramah lingkungan di desa masing-masing. Langkah ini penting agar produk hasil panen dari perkebunan rakyat di Indragiri Hilir memiliki daya saing tinggi dan kemudahan akses di rantai pasok industri hilir.
Komitmen Pendampingan Pasca-Pelatihan
Panitia penyelenggara menegaskan bahwa kelanjutan dari program pelatihan untuk 111 peserta ini tidak akan berhenti begitu acara penutupan selesai. Evaluasi berkala dan pendampingan lapangan (field mentoring) akan terus dilakukan oleh tim teknis guna memantau sejauh mana para alumni pelatihan mempraktikkan ilmu yang didapat di kebun mereka masing-masing.
Pemerintah daerah setempat memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kolaborasi BPDP, Ditjenbun, dan BPI yang telah mengucurkan investasi SDM di wilayahnya.
Dukungan kelembagaan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan diperluas jangkauannya ke desa-desa lain di Indragiri Hilir. Melalui penguatan kapasitas teknis, kemandirian pupuk, dan semangat inovasi para petaninya, sektor perkebunan di Negeri Seribu Parit siap berlayar mantap menuju masa depan yang lebih hijau, mandiri, dan menyejahterakan rakyat.
Sumber berita: https://pekanbaru.tribunnews.com/adv/1110214/111-peserta-dari-inhil-ikuti-pelatihan-pembuatan-pupuk-organik-didukung-bpdpditjenbunbpi
Tinggalkan komentar